Pencarian

Prabowo Bidik Bensin dari Batu Bara usai RI Stop Impor Solar

Minggu, 20 September 2026 • 06:01:31 WIB
Prabowo Bidik Bensin dari Batu Bara usai RI Stop Impor Solar
Presiden Prabowo Subianto menghadiri Syukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).

NUSAPERDANA.COM — Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah akan memproduksi bensin berbahan dasar batu bara, menyusul keberhasilan program solar campuran minyak sawit 50 persen atau B50. Rencana itu disampaikan Prabowo saat menghadiri Syukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026). Langkah ini menandai babak baru upaya Indonesia melepas ketergantungan pada bahan bakar impor.

Prabowo menilai keberhasilan pengembangan bahan bakar dari sumber daya lokal membuka jalan bagi diversifikasi energi yang lebih luas. Ia menyebut para akademisi dan profesor dari berbagai fakultas teknik di Tanah Air telah berhasil menciptakan solar dan bensin dari minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO).

Dari capaian itu, pemerintah kini membidik batu bara sebagai bahan baku alternatif untuk memproduksi bensin. Prabowo menyampaikan hal tersebut secara langsung di hadapan peserta acara syukuran pesantren tertua di Indonesia tersebut.

"Profesor-profesor kita yang pintar, yang benar pintarnya ya, bukan yang profesor tadi itu. Dari fakultas-fakultas teknik kita sudah berhasil bikin solar dari kelapa sawit, dan sudah bisa membikin bensin dari kelapa sawit, dan kita juga nanti akan bikin juga bensin dari batu bara," kata Prabowo.

Indonesia Setop Impor Solar Sejak 1 Juli

Keberhasilan program B50 disebut Prabowo telah membuat Indonesia berhenti mengimpor solar sejak 1 Juli lalu. Ia menegaskan produksi solar dalam negeri kini sudah mandiri sepenuhnya.

"Kita mulai 1 Juli yang lalu kita tidak impor solar dari luar negeri. Solar kita sekarang sudah mandiri," tutur Prabowo.

Menurut Prabowo, kemandirian solar menjadi penyangga penting di tengah kondisi global yang penuh konflik. Kelangkaan pasokan solar terjadi di berbagai negara, sehingga harga maupun ketersediaan barang menjadi persoalan serius.

"Hari-hari ini solar langka di dunia, kita punya uang pun mungkin tidak ada barangnya. Alhamdulillah, kita sudah bisa produksi solar kita sendiri. Dari mana? Dari kelapa sawit," ucapnya.

Mengapa Batu Bara Jadi Incaran

Batu bara merupakan salah satu komoditas tambang paling melimpah di Indonesia. Selama ini batu bara lebih banyak diekspor dalam bentuk mentah atau dipakai untuk pembangkit listrik tenaga uap. Pengolahan batu bara menjadi bahan bakar cair membuka peluang pemanfaatan cadangan domestik untuk sektor transportasi.

Rencana produksi bensin dari batu bara menambah daftar langkah pemerintah dalam mengurangi impor bahan bakar minyak. Sebelumnya, program pencampuran minyak sawit ke dalam solar menjadi contoh bagaimana sumber daya lokal bisa menggantikan pasokan luar negeri.

Prabowo menegaskan pengembangan sumber bahan bakar baru harus terus dilanjutkan. Menurutnya, inovasi dari kalangan akademisi menjadi kunci dalam menjaga ketahanan energi nasional.

Dampak ke Masyarakat dan Industri

Jika terealisasi, produksi bensin dari batu bara berpotensi menekan kebutuhan impor bensin yang selama ini membebani neraca perdagangan. Masyarakat pengguna kendaraan bermotor bisa merasakan dampaknya lewat harga yang lebih stabil bila pasokan dalam negeri meningkat.

Bagi industri pertambangan, rencana ini membuka peluang nilai tambah baru. Batu bara tidak lagi sekadar dijual sebagai komoditas mentah, tetapi bisa diolah menjadi produk turunan bernilai lebih tinggi.

Namun, realisasi rencana tersebut masih menunggu kajian teknis dan kesiapan fasilitas pengolahan. Pemerintah belum merinci target waktu maupun kapasitas produksi bensin dari batu bara.

Keberhasilan B50 menjadi modal kepercayaan bagi pemerintah untuk melanjutkan eksperimen energi berbasis sumber daya lokal. Jika bensin dari batu bara bisa diproduksi secara komersial, Indonesia berpeluang memperkuat posisi sebagai negara dengan kemandirian energi yang lebih kokoh di kawasan Asia Tenggara.

Sumber: finance.detik.com

Follow nusaperdana.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks