Bisnis Ayam Kampung Asli Rumahan, Solusi Alternatif Hadapi Pandemi Covid-19
Nusaperdana.com, Indragiri Hilir - Suara riuh ayam-ayam tiap saat menemani. Suaranya kadang menjadi penenang di kala penat dan banyak beban pikiran.
Begitulah yang dirasakan salah satu peternak ayam kampung asli (AKA) rumahan, Syarkawi (50).
Pria paruh baya yang berdomisili di Kelurahan Tembilahan Hilir, Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir ini memilih usaha sampingan, di tengah krisis akibat pandemi covid-19.
Ia memilih mulai beternak ayam kampung asli setelah serangan virus corona masuk di Indonesia, medio Maret 2020 lalu.
Pandemi Covid-19 yang melanda lebih dari setahun silam, memaksa masyarakat untuk lebih banyak berada di rumah untuk mengantisipasi paparan virus korona. Kondisi tersebut sangat memukul sektor ekonomi masyarakat.
Banyak bisnis bergelimpangan karena tak mampu bertahan menghadapi dampak yang ditimbulkan pandemi. Namun, ada beberapa sektor usaha yang justru memberikan titik terang bahkan terus bertumbuh. Salah satunya, usaha peternakan ayam yang meningkat di tengah pandemi.
Dari penuturan Syarkawi. Ternak ayam kampung asli rumahan yang digelutinya berawal dari hobi. Namun, di masa pandemi justru menjadi sumber penghasilan utama. Betapa tidak? Permintaan ayam malah meningkat tajam saat pandemi.
“Untuk faktor permintaan ini sepertinya dipengaruhi oleh kualitas daging yang yang lebih baik dan tekstur yang lembut sehingga konsumsi pun ikut meningkat,” kata Syarkawi saat ditemui di rumahnya, Sabtu (18/12/2021) sore.
Dia mengakui, permintaan ayam meningkat tajam. Bahkan, dia sampai kewalahan untuk memenuhi permintaan konsumen.
“Saya punya sepuluh indukan, tapi ada yang bertelur rutin setiap hari ada yang dua kali sehari,” tuturnya.
Sekitar dua tahun lalu, dia bersama kawannya sesama peternak ayam mendatangkan puluhan telur ayam dari Pekanbaru. Sebagian dari telur dijual ke peternak lain dan sisanya ditetaskan untuk dipelihara.
“Sekarang tersisa 2 ekor yang jantan. Untuk pembiakan, saya menggunakan indukan betina juga dari Pekanbaru,” terangnya.
Syarkawi menuturkan, selama pandemi ini dia sudah menjual ratusan kilogram ayam. Harga jualnya di pasaran untuk ayam kampung asli berkisar antara Rp 35.000 - Rp 40.000 per kilogram.
Untuk pemasaran, Syarkawi lebih banyak melalui forum jual beli online. Pembelinya bukan hanya dari kota Tembilahan saja, tapi menjangkau sejumlah wilayah di luar Tembilahan bahkan di luar Kabupaten Indragiri Hilir.
"Alhamdulillah, omset dari ternak ayam kampung asli ini meski tidak fantastis, namun mampu menutupi kebutuhan hidup sehari-hari rumah tangga di masa pandemi Covid-19 ini," tutup Syarkawi tanpa merinci omset per bulan usaha ternak ayam kampung asli rumahan miliknya. (Dedek Pratama)


Berita Lainnya
Di Wiliyah Bantan Sari Kabupaten Bengkalis Hutan Mangrove Seluas 3,4 Hektar Dibabat Untuk Usaha Tambak Udang
Galian C di Pulau Tinggi Ditutup, Ketua Komisi III DPRD Riau: Perusahaan Tak Hadir Saat RDP
Dishub Kampar Monitoring Lalu Lintas di Pasar Ramadan, Pastikan Arus Tetap Lancar
Komisi III DPRD Riau dan Pemprov Sidak Galian C PT KKU di Kampar, Sumur Warga Kering dan Sawah Terdampak
Ngopi Bareng Ketua IWO Riau, Mafirion Bahas Isu Strategis dan Janji Kawal Keluhan Warga
Mafirion Berbagi Kebahagiaan Ramadhan, 1.200 Anak Yatim dan Dhuafa Terima Santunan di Inhil dan Kuansing
Warga Resah Dengan Aktivitas Tertutup di Belakang Meja Biliar Yang Diduga Berkedok Judi
KLHK Limpahkan Pengaduan Aktivitas Galian C PT KKU di Sungai Jalau Kampar ke DLH Riau