Tingkatkan Produktivitas, KKP Fokus Garap Sektor Budidaya Perikanan
Nusaperdana.com, Bogor - Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyebut pengembangan sektor budidaya perikanan menjadi prioritas di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Hal ini sesuai dengan amanat Presiden Joko Widodo untuk dapat meningkatkan produktivitas budidaya perikanan di Indonesia.
Alasan menjadikan sektor budidaya perikaan sebagai fokus utama, karena baru 10 persen yang tergarap dari potensi yang ada. Dan dari 10 persen itu, menurut Menteri Edhy, pengelolaan dan hasilnya belum maksimal.
“Padahal bila digarap serius, ini bisa jadi lapangan kerja baru dan meningkatkan devisa,” ujar Menteri Edhy saat menutup Rapat Koordinasi KKP di Sentul, Bogor, Rabu (22/1).
Berdasarkan peta potensi perikanan budidaya di KKP, seluruh pulau di Indonesia berpeluang menjadi tempat pembudidayaan. Baik untuk budidaya perikanan air tawar, air payau, dan juga laut.
Lebih mengerucut, Menteri Edhy mengharapkan jajarannya mengutamakan budidaya udang. Sejauh ini, ada sekitar 300 ribu hektare lahan budidaya udang di Indonesia. Dari jumlah tersebut, menghasilkan sekitar 800 ribu ton udang per tahun atau sekitar 2,6 ton per hektare.
“Kita targetkan saja menjadi 5 ton hasil panen per hectare-nya,” ujarnya di hadapan para peserta Rakor KKP yang terdiri dari pejabat eselon 1 dan 2 KKP, tim Penasihat Menteri dan Komisi Pemangku Kepentingan dan Konsultasi Publik.
Dalam mengembangkan sektor budidaya, Menteri Edhy tidak hanya akan memaksimalkan lahan yang dimiliki KKP, tapi juga bekerjasama dengan lintas instansi dan lembaga. Seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Pemda, serta Perhutani. Sedangkan dari sisi permodalan, KKP menggandeng perbankan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pihaknya pun siap melakukan pendampingan bagi masyarakat yang akan terjun ke sektor ini.
“Kita dampingi (ke perbankan). Asal niatnya untuk produktivitas,” tambahnya.
Di sisi lain, pakan juga menjadi concern KKP. Karena selama ini, salah satu kendala pembudidayaan ikan adalah mahalnya harga pakan. Ia bersama jajaran sedang menggodok pengembangan pakan alternatif berupa maggot (black soldier fly). Harga maggot jauh lebih murah dibanding pakan konvensional. Nutrisinya pun tak kalah, dan dapat mengurangi sampah organik.
“Maggot ini lebih hemat, karena per 0,8 kg-nya bisa untuk 1 kg ikan/udang. Sedangkan pakan biasa butuh 2 kg,” pungkasnya.


Berita Lainnya
Warga Binaan Rutan Medan Buka Puasa Bersama Keluarga. 1.543 orang berkumpul di Safari Ramadhan Penuh Makna
Rutan Medan Tancap Gas Atasi Overkapasitas, 85 Napi Tipikor Dipindahkan Selama 2025 - 2026
Pers di Persimpangan AI: Menkomdigi Tegaskan Etika sebagai Nafas Demokrasi
Patisipasi Dalam HPN 2026 di Banten PWI Bengkalis Ikuti Jalan Sehat
Sambut HPN dan Piala Dunia 2026, PWI Main Bola Bareng ANTARA, TVRI, dan RRI
Ketua PWI Bengkalis Adi Putra Ikuti Retret Kebangsaan Kemenhan RI, Perkuat Peran Pers sebagai Kader Bela Negara
Retret PWI Masuki Hari Kedua, Disiplin dan Integritas Jadi Penekanan
Rangkaian HPN 2026, PWI dan Kemenhan Gelar Retret Perkuat Pers Profesional dan Berwawasan Kebangsaan